Wednesday, January 14, 2015

Kualitas Bukan Lagi Nomor Satu



Novel Ayat Ayat Cinta merupakan novel terlaris untuk kategori local, dan merupakan novel terlaris di Indonesia di bawah harry potter ( terjemahan ke Indonesia ). Beberapa tahun kemudian, muncul laskar pelangi menggeberak dunia perbukuan nusantara. Laskar pelangi hampir mengungguli Ayat Ayat Cinta. 

Perlombaan untuk menjaring novel berkualitas pun dilakukan oleh penerbit bergengsi. Dan diperoleh banyak novel berkualitas dari berkualitas. Karena penilai atau juri dari lomba itu tidak main main, paham betul sastra dan tata Bahasa. 

Mulai lomba dewan kesenian yang heboh, lomba gramedia, semua memperoleh beberapa karya berkualitas dari terbaik karena disaring melalui juri juri terbaik dari juri juri yang ada di nusantara ini. Tapi apa yang terjadi kemudian ? Nasib karya karya berkualitas dari pilihan jutaan itu ?


Tidak sedikit karya itu hanya membebani penerbit. Karena jumlah penjualannya yang sangat minim. Berkualitas karya itu tidak langsung serta merta laku di pasaran. Bahkan membebani penerbit karena mengeluarkan semua beban untuk mempublikasikannya.
Mengapa begitu ? Sebelum itu, izinkan saya sedikit berbelok tapi masih mengarah ke materi.

Menang Itu Mudah

Waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, sekolah mengutus diri saya untuk mengikuti lomba lukis tingkat kecamatan. Dan dari kecamatan itu ada ratusan desa yang memiliki banyak sekolah. Saya pun mengikuti lomba lukis. Dan apa yang terjadi ?
Saya mendapat peringkat 2. Secara ajaib, saya dipuji puji oleh banyak orang. Saya diberi hadiah oleh guru guru saya. Orang bilang hal itu menjadi suatu prestasi dahsyat.
Lantas apa kesusahan mendapat peringkat itu ?

Tidak.

Karena saingan saya hanya 11 anak. Jadi yang ikut lomba lukis itu hanya 12 anak. Bayangkan, ratusan sekolah se kecamatan hanya 12 anak yang ikut lomba. Artinya, peringkat 2 logikanya saya tidak pernah mengalahkan ratusan siswa se kecamatan. Tapi orang bilang saya juara 2 tingkat kecamatan. Hal itu memang nyata dan tidak bohong. Oleh karena itu, menang itu mudah karena saingannya sedikit. Dalam perlombaan apa pun, ada gairah kurang dari pola pikir orang jikalau ada unsur ketidaknikmatan di sana. 

Apalagi misalnya begini,

“ Walah, hadiahnya kok gitu.”
“ Halah, apa an tuh, bikin capek aja.”

Maka ambil kesempatan itu, yang artinya Anda paling rajin dan antusias. Maka secara mengejutkan, Anda lah selangkah lebih maju dari mereka.

Saya contohkan yang lain.
Taufik Hidayat menjadi pemain terbaik dunia bulutangkis di masanya. Yang jadi pertanyaan, apakah dia mengalahkan seluruh masyarakat dunia sehingga disebut pemain bulutangkis terbaik dunia ?

Tidak, dia belum pernah mengalahkan saya dalam badminton. Dia belum pernah mengalahkan Anda dalam badminton. Dia hanya bermain 6 kali dengan 6 orang. Lalu menang terus dan disebut sebagai pemain terbaik dunia bulutangkis. Sekali lagi, menang itu mudah karena saingannya sedikit. Jika kita mengambil, maka kita selangkah kita lebih maju.

Komunikasi Kunci Kesuksesan

Pada masanya dunia pernovelan seolah disi penyakit yaitu kurang gairah terutama novel Islam. Novel novel Islam kurang bergairah, menumpuk, tidak ada sesuatu hal baru, seolah tidur sangat panjang hingga ada yang membangunkannya.

Maka Kang Abik muncul dengan AAC dengan tema yang beda dari yang lain, dan inilah yang selama ini dirindukan, menjadi suatu gebrakan baru gairah novel Islam. Dia menkomunikasikan karya melalui kenalan yang benar benar tau publikasi. Dia kenal penerbit terkenal, kemudian menawarkan karya untuk dibuat cerbung terlebih dahulu. Saat itu antusias pembaca koran meledak dari cerbung. Sehingga dibukukan novel, orang benar benar mengenal AAC. Hal itu semacam komunikasi dahsyat di luar konten novel yang memang bagus. Tapi bagus pun percuma, jikalau komunikasi nol.

Sama halnya laskar pelangi, kondisi waktu itu dunia perbukuan haus akan karya menyajikan nurani demi nurani. Karena yang beredar saat itu dikuasi oleh novel remaja, teenlit, novel gaul lainnya. Maka pembaca haus akan seluk beluk yang selama ini tertanam di jiwa. Maka laskar pelangi muncul menjadi pelepas rindu mereka sebagai karya penyentuh jiwa. 

Nah, yang jadi pertanyaan, andai AAC dilombakan perlombaan islam yang diikuti jutaan novel islam, lantas menangkah ? Begitu pula laskar pelangi diikutkan dalam perlombaan novel inspiratif yang diikuti jutaan novel inspiratif ?

Belum tentu. 

Terkadang kita bila diminta untuk diteliti, diminta menulis, kita respon
“ Bego tuh, gue kan bisa bohong.”
Tapi saudara, penelitian memang berpengaruh dahsyat.

Kembali ke topic

Era berubah. Era dulu kualitas segalanya. Sekarang berubah, komunikasi segalanya. Ada banyak roti lebih enak dari mc donall, tapi mc donall selalu terdepan. Ada banyak ustadz bergelar dan jauh lebih religious, tapi beberapa ustadz yang sering muncul di layar kaca selalu didepan ketika menyangkut jumlah kehadiran jamaah. Ada banyak novel lebih berkualitas dari judul yang saya sebutkan di atas, tapi beberapa itu selalu terdepan. Ada banyak lagu lebih baik dari sekedar lagu yang liriknya di ulang ulang, tapi lagu almarhum surip selalu laris di masanya meskipun di ulang ulang liriknya. 

Eksis tidaklah keliru. Yang keliru, cara menyampaikan ketika hal itu terkait hal negative. Semisal hanya gara gara ingin eksis, artis sampai tega bercerai. Adakah ? Cek saja. Karyawan membuat keburukan untuk menyisihkan keryawan lain demi eksis. Atau pengusaha membuat berita fitnah supaya saingannya dimusuhi pelanggannya.
Carilah cara yang menyejukkan jiwa agar diri kita tetap eksis. Salah satunya adalah komunikasi yang positif.


Nalis

No comments:

Post a Comment