Hutang Bisa Memutus Tali Silaturahmi
Alkisah, seorang terkena beban
ekonomi berat. Dia harus berhutang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari hari.
Dia tahu hutang bank sangat beresiko, maka dia berhutang pada tetangganya. Dia
berhutang dengan jumlah besar. Dengan lapang dada, tetangganya memberi pinjaman
untuk kemudian dikembalikan jikalau sudah penghasilan lagi. Tapi si penghutang
tadi mantap sebulan lagi akan mengembalikan uang.
Sebulan berikutnya, karena si
pemberi hutang tadi juga butuh duit. Dia datang ke rumah si penghutang untuk
meminta kembali uang, atau Bahasa kasarnya nagih. Tapi si penghutang kembali
tidak punya uang. Dia meminta tunggu sebulan lagi.
Datang bulan kedua, si pemberi
hutang tadi datang kembali. Hasilnya sama, belum ada uang. Padahal si pemberi
sungguh butuh uang itu. Akibatnya, ada rasa curiga muncul pada diri mereka.
Pandangan mereka memicing. Dalam keseharian dalam bercanda, bersendau gurau,
tidak bisa dilakukan seperti sedia kala, disebabkan ada satu problem yang pecah
dalam diri mereka, yaitu hutang.






