Warni
mengajak Van Len untuk mengunjungi rumahnya. Warni ingin memperkenalkannya pada
teman-temannya. Van Len merasa senang. Van Len merasa hatinya meluas. Ia merasa
jauh lebih berbahagia dari sebelumnya.
Mereka
berdua melewati rerumputan hijau. Di sekitar, pohon-pohon menjulang tinggi juga
bunga-bunga indah. Aroma wangi bunga melati terasa begitu kental. Mereka
menghirup napas terasa dimanjakan. Mereka ingin lebih lama menghirup napas.
Wangi bunga menyebar terbawa oleh angin.
Di
tengah jalan Warni bertemu dengan empat gadis temannya. Empat gadis itu memakai
kebaya rapi serta ember berisi pakaian. Rambut mereka tersisir rapi, memanjang
sampai dada. Mereka tampak terkejut. Salah seorang dari mereka berteriak,
“
Aaaa....Warni, apa yang kau lakukan. Menyingkirlah dari orang itu. Ia seorang
penjajah, Warni.”
Warni
coba menenangkan mereka.
“
Tenang..tenang teman-teman, ia bukan seorang penjajah. Ia teman baikku. Ia
bukan orang jahat..sungguh.”
Salah
seorang dari mereka merespon,
“
Warni, penjahat itu punya cara licik untuk menjebak mangsa. Ia bisa saja berpura-pura
baik, lalu pada ujungnya ia akan menerkam kita. Mungkin ia ingin mengetahui
lebih jauh tentang Jogja. Lalu ketika kembali, ia ceritakan pada para musuh.
Tinggalkan dia, Warni.”
Mendengar
hal itu, Van Len angkat bicara,
“
Aku bukan seorang tentara Belanda. Tapi aku orang asli Belanda. Aku di sini
untuk memperbanyak teman, teman asli Indonesia. Sungguh aku bukan orang jahat.”
Empat
gadis itu terkejut. Mereka terkejut mendengar ucapan berbahasa Indonesia keluar
dari mulut Van Len. Salah seorang dari mereka kembali bertanya,
“
Kau bisa berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia ?”
“ Ya
aku bisa berbicara dengan menggunakan
Bahasa Indonesia. Sejak kecil aku tinggal di Indonesia. Aku banyak
bergaul dengan orang Indonesia. Mereka sangat berbudi pekerti baik. Aku sangat
mengagumi mereka. Karena itu lah aku menentang secara diam-diam Agresi Militer
Belanda di negeri ini. Belanda tak punya hak sedikit pun atas tanah Indonesia.
Aku sangat sedih dengan penjajahan sangat lama terhadap Indonesia.”