Showing posts with label CERITA PENDEK. Show all posts
Showing posts with label CERITA PENDEK. Show all posts

Wednesday, August 20, 2014

Sang Pujangga



Roni mengajak sang pujangga berjalan menuju perkuburan bapak dan ibunya. Pujangga itu hanya menunduk. Ia merasa kehilangan semuanya. Setelah kehilangan kekasih hatinya, dirinya dikagetkan oleh berita kematian bapak dan ibunya. Sang pujangga itu merasa langit seolah runtuh, lalu menimpa dirinya. Ia merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia. Ia juga merasa nasibnya tragis, seperti sudah jatuh ketimpa tangga, lalu masuk selokan. 

“ Tegar, seharusnya kamu mengutamakan kedua orang tuamu daripada cintamu pada gadis itu. Kamu terlalu berlebihan mencintai gadis itu,” ucap Roni dengan perlahan.

Ia menambahkan,
“ Gar, sungguh masih beruntung nasib jenazah bapak dan ibumu. Mereka berdua dikebumikan tanpa dikenakan beaya sedikit pun dari pihak keluarga, yaitu kamu. Sudah ada donatur yang bersedia membantu warga miskin atau kurang mampu. Donatur dari pemerintah setempat.” 

Monday, August 18, 2014

Sebuah Mutiara Tenggelam Di Dasar Sungai Kumuh Ibukota



Angin berhembus kencang. Guntur bergemuruh hebat. Suaranya serasa memecah gendang telinga. Kilat memancar di langit, berwarna kuning keemasan, membentuk akar tumbuhan. Hujan turun deras. Pepohonan menari-nari diterjang angin. Daun -daun berguguran. Malam menujuk puncak. Terasa sunyi malam dari suara orang. Hanya nyanyian binatang malam menemani gemuruh alam.

Listrik padam. Semua menjadi gelap gulita. Aku menyelimuti tubuh dengan selimut. Angin berhembus kencang di luar, sesekali menyusup masuk lewat lubang dinding kayu, lalu menghantam tubuhku. Tubuhku menggigil kedinginan. Aku berusaha menuju alam mimpi, tapi gemuruh di langit seolah tak mendukungku. Aku bangkit, lalu menghirup napas panjang. Aku tidak bisa tidur.

Aku putuskan membuat susu manis. Aku berjalan keluar dari kamarku. Aku memegang senter sebagai penerang. Warna kuning keemasan terpancar dari senter. Aku berjalan menuju dapur. Aku tersentak. Di tengah gemuruh hujan lebat, aku mendengar suara seorang bocah di luar. Tapi aku segera membuang jauh. Aku mengganggap hal itu sebagai halusinasi saja.

Sunday, August 17, 2014

Sahabat Perjuangan



“ Tentara musuh semakin mendekat. Lihatlah, mereka sudah tampak di pelupuk mata kita. Mereka tampak kelelahan,” kata Komandan Siswono pelan.

Mereka bersembunyi di balik semak-semak. Mereka bersiap menembak. Pohon-pohon jati memenuhi isi hutan. Batang pohonnya tampak kurus, tak layak dibuat tempat sembunyi. Batu-batu gunung bisa jadi alternatif tepat untuk bersembunyi. Mereka juga mengandalkan semak-semak. Tubuh mereka menegang. Mereka terfokus pada penyerangan. Mereka sempat terbersit pikiran tentang nasib kelompok lain. Terutama kelompok paling depan berhadapan dengan musuh.

“ Segera ambil posisi tepat !” himbau Komandan Siswono.

Para pasukan segera berpencar mencari posisi. Mereka bersembunyi di balik semak-semak. Para tentara musuh semakin mendekat. Mereka belum menyangka musuh sudah berada sangat dekat. Rahman memicingkan mata. Ia bersiap melepas peluru dari senapan. Ia mengarahkan target pada seorang tentara bertubuh subur. Sesaat kemudian peluru melesat. Desis peluru terdengar. Para tentara terkaget seketika. Peluru menghantam jantung tentara subur itu. Ia jatuh tersungkur ke tanah. Tubuh bersimbah darah.

Saturday, August 16, 2014

Ketika Atasanku Bertanya



Musim dingin tiba di Sidney. Aku diantar oleh Helmi menuju sebuah perusahaan tekstil. Aku diajak menelusuri ruangan besar. Banyak sekali karyawan sibuk berkerja. Mereka menenun, menjahit, bahkan menyapu teras. Suara mesin bergemuruh. Mereka seolah tak melihat kehadiranku. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Helmi menepuk punggungku. Aku tersentak. Aku pun membalikkan badan.
“ Ada apa, Hel ?” tanyaku lirih.
“ Itu lho bos kita.”
Aku mengarahkan pandangan ke depan. Seorang wanita berambut hitam lurus sedang berdiri beberapa meter di depanku. Wanita tampak anggun sekali. Aroma wangi tubuhnya menyebar ke segala penjuru, beraroma melati. Kulitnya putih bersih. Ia memakai kaca mata hitam. Tapi pakaiannya cukup terbuka. Ia hanya memakai baju kemeja putih kotak-kotak lengan pendek. Dan dihiasi rok hitam memanjang sampai lutut. Sepasang sepatu merah tampak berhak tinggi. Ia membawa tas cangklong hitam putih. Dari segi wajah, ia memang tampak berumur tiga puluh tahunan.

Pak Tua Bijak


Dulu di negeri Cina hidup seorang tua yang bijak. Dia dikenal bijak oleh semua orang yang mengenalnya. Dia hidup sederhana bersama seorang anak yang masih perjaka. Istrinya pak tua itu sudah lama meninggal. Dia juga memelihara seekor kuda yang menjadi alat pencari nafkah. Setiap hari, dia gunakan kuda itu untuk memberi pelayanan jasa transportasi pada orang orang. Pak tua itu sangat detail memelihara kudanya.

Suatu hari pak tua mengajak kudanya ke hutan. Karena persediaan stok rumput sudah habis di rumah. Sementara anaknya di rumah untuk menjaga barang berharga lain. Pak tua itu mengikat sebuah tali pada pohon untuk diikatkan pada kudanya. Dia merangkak naik ke bukit yang tidak bisa dijangkau oleh kuda. Rerumputan segar terlihat panjang dan bersih dari di bawah.

Pak tua pun turun dengan menggendong karung berisi rumput. Tapi dia tidak melihat kuda di tempatnya. Hanya seutas tali tertancap di pepohonan. Pak tua itu pulang penuh ketenangan. Banyak orang di rumahnya heran dengan kuda yang biasa ada di halaman depan rumah pak tua itu. Ketika ditanya, pak tua itu menjawab,