Tuesday, October 21, 2014

Kharisma Van Len



Warni mengajak Van Len untuk mengunjungi rumahnya. Warni ingin memperkenalkannya pada teman-temannya. Van Len merasa senang. Van Len merasa hatinya meluas. Ia merasa jauh lebih berbahagia dari sebelumnya.

Mereka berdua melewati rerumputan hijau. Di sekitar, pohon-pohon menjulang tinggi juga bunga-bunga indah. Aroma wangi bunga melati terasa begitu kental. Mereka menghirup napas terasa dimanjakan. Mereka ingin lebih lama menghirup napas. Wangi bunga menyebar terbawa oleh angin.

Di tengah jalan Warni bertemu dengan empat gadis temannya. Empat gadis itu memakai kebaya rapi serta ember berisi pakaian. Rambut mereka tersisir rapi, memanjang sampai dada. Mereka tampak terkejut. Salah seorang dari mereka berteriak,

“ Aaaa....Warni, apa yang kau lakukan. Menyingkirlah dari orang itu. Ia seorang penjajah, Warni.”
Warni coba menenangkan mereka.
“ Tenang..tenang teman-teman, ia bukan seorang penjajah. Ia teman baikku. Ia bukan orang jahat..sungguh.”
Salah seorang dari mereka merespon,
“ Warni, penjahat itu punya cara licik untuk menjebak mangsa. Ia bisa saja berpura-pura baik, lalu pada ujungnya ia akan menerkam kita. Mungkin ia ingin mengetahui lebih jauh tentang Jogja. Lalu ketika kembali, ia ceritakan pada para musuh. Tinggalkan dia, Warni.”
Mendengar hal itu, Van Len angkat bicara,
“ Aku bukan seorang tentara Belanda. Tapi aku orang asli Belanda. Aku di sini untuk memperbanyak teman, teman asli Indonesia. Sungguh aku bukan orang jahat.”
Empat gadis itu terkejut. Mereka terkejut mendengar ucapan berbahasa Indonesia keluar dari mulut Van Len. Salah seorang dari mereka kembali bertanya,
“ Kau bisa berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia ?”
“ Ya aku bisa berbicara dengan menggunakan  Bahasa Indonesia. Sejak kecil aku tinggal di Indonesia. Aku banyak bergaul dengan orang Indonesia. Mereka sangat berbudi pekerti baik. Aku sangat mengagumi mereka. Karena itu lah aku menentang secara diam-diam Agresi Militer Belanda di negeri ini. Belanda tak punya hak sedikit pun atas tanah Indonesia. Aku sangat sedih dengan penjajahan sangat lama terhadap Indonesia.”
Mereka terdiam. Sesaat kemudian, Warni menjelaskan panjang lebar tentang Van Len. Empat gadis itu sedikit lunak dibandingkan sebelumnya. Lalu mereka berjalan satu barisan mendekati Van Len.
Warni memperkenalkan Van Len pada mereka,
“ Namanya Van Len.Dia akrab dipanggil Len.”
Seorang gadis bertubuh subur memandang Van Len penuh senyum. Ia berkata,
“ Namaku Sukmawati. Nama panggilanku Wati. Aku teman dekat Mawarni.”
Van Len tersenyum padanya.
Seorang gadis lain berkata, “ Namaku Ningtias.”
Gadis selanjutnya melanjutkan, “Namaku Muliasih.”
Gadis terakhir berkata, “ Namaku Titin.”
Van Len berbahagia. Mereka menyambutnya penuh hangat. Van Len tak kaget mereka mencurigainya tadi. Tentara-tentara negerinya sudah muak dilihat oleh mata mereka. Tapi mereka tak menvonis semua warga negara Belanda tak berperi kemanusiaan. Mereka menerima kebaikan dari siapa saja. Van Len merasa kesesakan yang mengekang tubuhnya melepas perlahan.
Ningtias memandangi Van Len penuh takjub. Van Len agak canggung dibuatnya.
“ Mengapa kau memandangiku seperti itu, Teman ?” tanya Van Len lirih.
“ Kau tampan sekali, Van Len.”
Van Len tersenyum malu dibuatnya. Warni langsung menyahut,
  Van Len mau kuajak ke rumahku. Kalian mau ikut denganku ke sana ?”
Sukmawati angkat bicara,
“ Kami akan mencuci pakaian di sungai itu. Kami tidak bisa ikut dengan kalian berdua. Tapi mungkin kami bisa menyusul ke sana. Pakaian kami sangat banyak, Warni.”
Warni dan Van Len meninggalkan mereka. Di tengah perjalanan, Warni teringat ucapan Van Len. Ia memberanikan diri untuk bertanya,
“ Len, apa kau serius memberikan kalung emas bersejarah padaku ?”
“ Ya, aku berjanji padamu. Dan aku akan menepati janjiku.”
“ Aku merasa tidak layak memakainya.”
“ Tapi aku merasa kau layak memakainya.”
Warni tertawa kecil. Van Len melakukan hal sama. Tangan Warni menunjuk salah satu rumah di antara sekian banyak rumah. Rumah-rumah penduduk berdempet memanjang di samping kanan dan kiri jalan. Jalan tanah bergelombang agak menyulitkan perjalanan mereka berdua. Sesekali mereka harus menanjak sedikit ke atas,juga ke bawah. Tanah tidak rata di situ. Warni sedikit kelelahan. Sementara Van Len masih segar meskipun keringat bercucuran deras membasahi tubuh.
“ Itu rumahku,” sahut Warni sambil menunjuk salah satu rumah.
Warni menunjuk sebuah rumah besar berpapan kayu. Rumah itu dihiasi jendela kayu, juga pintu kayu. Lantai rumah itu hanya tanah liat datar. Atap rumah itu berhiaskan genteng-genteng. Atap itu menjorok ke atas, membentuk segi tiga. Warna hitam kental pada atap itu. Sedangkan papan rumah itu berwarna coklat matang. Pintu dan jendela pun berwarna coklat hitam.
Warni dan Van Len menginjakkan kaki di depan pintu rumah.
“Apa orang tuamu di rumah ?” tanya Van Len.
“Ayahku ikut bergerilya, sedangkan ibuku terkadang membantu membuatkan makanan untuk pasukan gerilya di hutan-hutan. Aku tak tahu mereka sekarang di dalam atau tidak.”
Warni mengetuk pintu rumah. Pintu rumah sedikit bergetar. Tak ada jawaban dari dalam. Warni mencoba mengetuk pintu lebih keras. Tiba-tiba pintu bergeser ke dalam. Pintu rumah tak terkunci. Warni terkejut. Ia langsung memasuki rumahnya. Van Len berjalan di belakangnya.
Tampak jelas ukiran-ukiran kayu menghiasi isi rumah. Meja dan kursi kayu berhiaskan ukiran-ukiran gambar tokoh pewayangan. Tanah liat menjadi alas rumah, tampak mendatar dan terasa empuk di kaki. Lemari-lemari kayu banyak di samping sudut rumah. Tiga kamar berada di sudut rumah. Lampu minyak dipasang dengan menggunakan tali besi di atas.
“ Tak ada siapa pun di sini,” kata Van Len.
Warni merespon,
“ Mungkin ayah dan ibuku sekarang berada di hutan. Mereka ikut bergerilya.”
“ Len, ini lah rumahku. Tolong jangan bandingkan dengan rumahmu. Rumah sederhana. Rumah orang desa, bukankah begitu ?”
Van Len tertawa lirih.
“ Di Belanda, aku bosan tinggal di rumah mewah. Anak muda selalu ingin mencari sesuatu hal yang baru. Dan rumah ini menjadi hal yang baru bagiku. Yang tampak menakjubkan di mataku. Aku menganggap rumah ini luar biasa. Arsitektur rumah ini sangat kental dengan budaya jawa. Aku belum pernah melihatnya di negeriku.”
“ Kau pandai meluluhkan hati orang, Len ?.”
“ Apa termasuk hatimu ?”
“ Kurasa begitu.”
Van Len terus mengamati seluruh isi rumah. Ia tampak serius sekali. Warni hanya menggelengkan kepala melihatnya. Warni menuju ke dapur mempersiapkan hidangan. Van Len merasakan aura jawa sangat kental di dalam rumah itu. Ia duduk di atas tanah liat empuk. Ia merasa nyaman di dalam rumah itu. Kicauan burung di luar menambah tentram hatinya.
“ Hidangan sudah siap.”
Van Len menoleh ke arah suara. Warni datang membawa hidangan di atas nampan. Ia menaruhnya di atas meja makan. Lalu ia duduk di atas kursi kayu. Ia menyuruh Van Len untuk mencicipi hidangan. Van Len berdiri lalu menghampirinya. Van Len merasa Warni tahu bahwa perutnya keroncongan.
Ia duduk di atas kursi kayu. Warni berpindah kursi. Dan ia berada hanya satu meter di depan Van Len. Hanya terhalang oleh meja makan bundar, juga hidangan di atasnya. Van Len sesekali menegakkan wajah ke atas. Warni melakukan hal sama. Tatapan mereka bertemu, saling berbagi ketakjuban. Tak lama berselang, mereka menundukkan pandangan. Wajah mereka berdua memerah, malu atas kejadian itu. Warni sesekali menjadi salah tingkah.
Di atas meja bundar, hidangan hangat disajikan. Nasi putih menggumpal di atas sebuah piring kaca. Telur dadar lima buah disajikan di atas piring plastik lebar. Kemudian sayur kacang panjang disajikan di atas mangkuk kaca. Tiga piring, gelas, dan sendok disajikan rapi. Sebuah teko berisikan teh hangat ditaruh di sampingnya. Teh hangat menjadi minuman penghangat suasana saat itu.
Warni memulai mengambil makanan di atas meja itu. Ia menyuruh Van Len untuk melakukan hal sama.Van Len mengambil piring. Ia lalu mengambil nasi putih setengah dari luas piring. Lalu ia mengambil satu telur dadar. Ia langsung memakan tanpa menggunakan sayur kacang panjang.
“ Kau tak suka kacang panjang ?” tanya Warni lirih.
“ Aku belum pernah memakannya.”
“ Cobalah..enak sekali.”
Van Len menuruti ucapan Warni. Ia mengambil sayur kacang panjang. Ia melahapnya bersama nasi putih dan telur dadar. Lidahnya bergoyang menikmati hidangan itu. Ia mengacungkan jempol pada Warni sambil tersenyum manis. Hati Warni semakin berbunga-bunga. Warni merasa tertawan olehnya. Ia ingin lebih lama berada di sisi pemuda Belanda itu.
Mereka berdua telah menyelesaikan makan siang. Warni penasaran dengan opini Van Len tentang masakannya. Ia memberanikan diri untuk bertanya,
“ Bagaimana tentang masakanku tadi ?”
“ Enak...sangat enak. Telur dadarnya agak sedikit asin tapi tak mengurangi cita rasa nikmatnya. Terus sayur kacang panjang terasa menggoyang lidah. Masakanmu sungguh nikmat.”
Warna merasakan aura kebahagiaan di dalam dirinya. Hatinya terbang tinggi ke langit. Pemuda di depannya itu sungguh dikaguminya. Ia sangat tertarik pada pribadi pemuda itu. Warni berdiri. Ia melihat Van Len sambil tersenyum,
“ Len, maukah kuajak kau ke tempat paling wangi di desa ini ?”
“ Tempat paling wangi ?”
“ Ya, di sana bunga-bunga indah menawan di mata bertebaran. Aroma-aroma wangi bunga serasa melegakan pernapasan. Kau pasti puas ke sana.”
“ Jauh dari sini ?”
“ Kurang lebih dua kilometer.”
Van Len berdiri. Ia terima hangat ajakan Warni. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Warni berjalan menuju ke arah pintu. Ia penasaran.
“ Warni, tolong buka pintunya. Aku ingin bertemu denganmu,”  ucap seseorang dengan nada tinggi.
Warni tersentak. Ia mengenal suara itu. Suara keras seorang laki-laki. Laki-laki yang telah lama dikenalnya. Untuk memastikan kebenaran, ia mengintip lewat jendela yang sedikit terbuka. Tampak sosok pemuda berbadan tegap sedang berdiri di depan pintu. Pemuda itu terus mengetuk pintu.
“ Kenapa kak Pardi tiba-tiba datang mendadak. Aduh bahaya ini,” katanya dalam batin.
Warni merasa dalam masalah besar. Di dalam rumah, seorang laki-laki Belanda sedang berdiri mengamati isi rumah. Warni sangat khawatir jika Pardi mengetahui keberadaan Van Len di sana. Pardi bisa naik pitam. Warni mengenal sosok Pardi sejak kecil. Ia keras dalam menindak sesuatu. Tak tanggung-tanggung, ia gunakan ototnya untuk meremuk lawan. Apalagi ia dikenal sangat membenci Belanda. Ia sudah muak terjajah.
Warni semakin khawatir. Sementara Pardi terus mengetuk pintu, bahkan ia mencoba untuk mendobrak pintu.’’ Apa harus aku jelaskan padanya tentang Len ,” kata Warni dalam batin. Tapi Pardi bisa jadi menolak lalu terjadi konflik. Pardi dikenal olehnya sebagai pribadi keras.
Warni mendapat ide. Ia berjalan cepat menghampiri Van Len. Ia tarik tangan Van Len. Lalu ia menggeret secara paksa tangan Van Len.
“ Warni, ada apa ini ?” tanya Van Len keheranan.
“ Ada masalah besar. Pokoknya ikuti aku.”
“ Ya..ya, tapi masalah apa. Tolong jelaskan.”
Warni menuju salah satu kamar. Ia menarik keras daun pintu. Warni kecewa, pintu kamar terkunci. Lalu ia dan Van Len menuju kamarnya. Ia menarik daun pintu. Pintu sulit terbuka. Ia menapuk keningnya. Ia baru teringat jika semua kunci dibawa oleh ibunya. Hanya kunci pintu depan rumah yang dibawa olehnya.
Kamar tersisa hanya kamar mandi. Satu-satunya kamar tak terkunci. Ia menyuruh Van Len masuk ke kamar mandi. Tak berselang lama, Van Len keluar dengan mual-mual. Warna merasa tempat itu tak cocok untuknya.
“ Warni, sebenarnya ada apa ?” tanya Van Len sambil mual-mual.
“ Kau berada dalam masalah serius. Seorang temanku datang ke sini. Ia sekarang berada di luar rumah, berdiri di depan pintu. Ia orang bertipe sangat keras. Dan ia sangat membenci tentara-tentara penjajah. Aku khawatir jika ia terlibat konflik denganmu. Aku bisa menjelaskan semuanya. Tapi ia terlalu membenci orang Belanda. Tangannya sudah gatal ingin memukul penjajah. Yang terbaik tolong bersembunyi sehingga ia benar-benar pergi dari sini.”
“ Warni, aku akan bilang padanya bahwa aku bukan penjajah. Aku akan bilang padanya juga bahwa aku membela bangsa ini dari penjajahan.”
“ Ia tipe orang yang tak mudah percaya pada perkataan orang. Apalagi orang yang baru dikenalnya. Apalagi orang yang dianggapnya penjajah.”
Hentakan sepatu keras terdengar sedang menuju ke arah jendela. Warni tersentak. Ia lupa mengunci jendela kayu. Ia seperti kehabisan akal. Jika Pardi membuka lebar jendela itu, bagian dalam rumah akan tampak. Hentakan kaki itu semakin dekat.
Di sebelah kanannya, ia melihat lemari kayu miliknya berdiri. Ia langsung mengambil tindakan. Ia membuka lemari itu, lalu mengeluarkan seluruh isinya. Ia meminta Van Len untuk memasuki lemari itu. Van Len menurutinya. Tubuhnya tampak sesak berada di dalam. Lemari itu satu centimeter lebih pendek dari tinggi badan Van Len. Van Len sedikit membungkukkan badan. Sedangkan ia juga harus merangkul erat kedua tangan untuk menyesuaikan lebar lemari. Warni menutup lemari rapat. Ia dapat bernapas lega saat itu. Sesuatu hal buruk itu hampir terjadi.
Pardi membuka lebar jendela. Sinar matahari memancar deras dari luar. Mata Warni terasa silau. Ia memejamkan mata sejenak,lalu membukanya. Pardi berdiri setengah badan di antara sinar silau. Ia memandangnya keheranan.
“ Ternyata kau di dalam, Warni,” ucap Pardi.
Warni langsung menyahut,
“ Kak, jangan masuk lewat jendela. Aku akan membuka pintu depan. Tunggu sebentar.”
“Aku akan menunggu di sana.”
Warni berjalan cepat menuju pintu. Ia meraih kunci pintu rumah dari dalam saku baju. Ia membuka pintu. Pardi berada tepat beberapa centimeter di depannya. Ia menyapanya dengan senyuman. Warna tersenyum tipis padanya.
“ Ayo silakan masuk,” himbau Warni.
Pardi masuk perlahan. Ia melepas sepatu botnya. Ia terasa lebih segar saat itu. Panas membara telah dilewati. Keringatnya masih bercucuran deras. Warni mempersilakan Pardi untuk mencicipi hidangan di atas meja makan. Pardi tak kuasa menolak. Gadis itu seperti tahu kondisi Pardi. Rasa lapar hebat melanda Pardi. Asam-asam lambungnya naik. Air ludahnya terkuras. Tenggorokannya terasa kering.
Pardi duduk di atas kursi kayu. Warni duduk agak menjauh darinya. Ia kurang enak melihat kondisi Pardi. Aroma badan kurang sedap terasa menyengat hidung. Pakaian Pardi basah kuyup oleh keringat.
Warni melihat Pardi penuh iba. Ia bertanya padanya,
“Ada perlu apa Kak Pardi ke sini ?”
Pardi melahap makanan secara perlahan.
“ Begini, aku khawatir sekali padamu, Warni. Kau bilang bahwa kau akan turun ke bawah untuk membantu para pasukan. Ternyata aku melihatmu di sini. Aku merasa lega.”
Warni langsung menyahut,
“ Memang aku turun ke bawah kemarin. Aku sempat melihat tentara-tentara musuh berkeliling Jogja. Mereka bersenjatakan lengkap. Sebagian tentara berjalan kaki memadati jalan.”
Pardi terkejut mendengarnya.
“ Apa kau turun ke sana.Warni,jangan sekali-kali ke sana. Sungguh berbahaya.”
“Aku hampir kehilangan keperawananku di sana, Kak.”
Mendengar ucapannya, emosi Pardi meledak. Ia mengepalkan tangan lalu memukulkannya ke meja kayu. Ia seolah tak merasakan rasa sakit. Napasnya tersendat-sendat.
“ Siapa yang hendak melakukan hal itu padamu. Akan kucincang-cincang dia,”  katanya dalam luapan emosi.
“ Dia seorang tentara musuh. Ia menyeretku ke tempat sepi lalu hendak berbuat kurang ajar padaku. Pada saat itu juga aku ditolong oleh seorang Belanda.”
Pardi terkejut. Ia menjulurkan wajah ke depan sambil berkata,
“ Apa aku tak salah dengar. Kau ditolong seorang penjajah.”
“ Ia bukan seorang penjajah. Ia mempunyai hati yang baik, yang berbeda dengan tentara-tentara musuh. Ia sangat baik, Kak. Ia menolongku di saat aku lemas tak berdaya.”
“ Hal itu dilakukan karena ada trik untuk mengambil hatimu. Kau memiliki rupa yang menawan, yang dikagumi oleh laki-laki. Dari pada dia mengambilmu secara paksa, ia merebut hatimu lewat jalan halus. Salah satunya ia gunakan adegan yang kau ceritakan tadi. Semua itu mungkin skenarionya untuk mengambil hatimu.”
“ Kak jangan asal bicara sembarangan begitu. Dia tidak memiliki sifat itu. Dia tidak mengenalku sebelumnya. Dia itu orang baik, Kak.”
“ Ya terserah saja, aku hanya menghimbaumu agar lebih berhati-hati. Apa sekarang dia di tempatnya, di markas bersama tentara musuh lain.”
“ Dia bukan seorang tentara. Dia seorang pemuda anak konglomerat.”
“ Ya sudah, aku juga ingin membicarakan hal lain kepadamu, Warni.”
“ Hal lain ?”
“ Begini, pasukan gerilya di hutan-hutan memang banyak. Tapi musuh juga banyak. Kita perlu pasukan lagi. Satu orang sangat berharga nilainya. Karena di pundaknya terdapat harapan besar rakyat Indonesia. Harapan mempertahankan tanah air tercinta kita. Mereka memang bersenjatakan lengkap jauh lebih lengkap dari senjata kita. Tapi bukan berarti hal itu melemahkan semangat kita. Semangat kita tetap berapi-api. Kita tengok kebelakang, Warni.”
“ Maksudnya ?”
“ Beberapa tahun lalu, di penghujung bulan oktober tahun 1945, Surabaya digempur oleh musuh. Bahkan penjajah Belanda saat itu dibantu oleh Inggris. Tapi arek-arek Suroboyo tak gentar melihat kekuatan mereka yang sangat kuat. Mereka saling gotong royong menyerang penjajah, mempertahankan Surabaya dari serangan musuh. Di bawah komando Bung Tomo, mereka berjuang penuh semangat, bahkan mengalahkan semangat para musuh dengan fasilitas senjata jauh lebih lengkap.”
“ Satu orang saja sangat bernilai, sangat berharga. Aku tak bisa berbuat banyak, Kak. Aku tak memiliki kekuatan fisik sehebat laki-laki. Andai aku memiliki kekuatan, aku tak berpikir panjang untuk bergabung bersama kalian.”
“ Jangan begitu, Warni. Kau bisa membantu pasukan tidak dengan harus ikut bertempur. Kau bisa membantu mereka dengan menyajikan makanan di saat tenaga mereka lengah, di saat perut mereka meminta hak untuk diisi. Kau juga bisa mengobati luka prajurit. Tugas itu termasuk mulia, Warni.”
Di dalam hawa sempit, di dalam kegelapan dominan, seorang pemuda berbadan tegap menghayati semua ucapan mereka berdua. Ia tak menghiraukan ruang gerak yang begitu sempit. Ia tak menghiraukan napasnya yang terasa sesak. Tapi ia menghiraukan ucapan, ucapan yang sangat bermakna baginya.
Ia merasa iba pada kondisi negeri orang. Negeri jajahan negerinya sendiri. Ia tak sedikit pun setuju terhadap agresi militer negaranya. Air matanya tiba-tiba menetes, membasahi pipi. Ia merasa harus menentang kedzhaliman. Ia ingin ikut andil bersama pasukan gerilya.
Sebuah gebrakan terdengar keras. Warni dan Pardi menoleh ke arah suara, lemari kayu di dekatnya. Pintu lemari terbuka lebar. Van Len keluar dari sana dengan badan tegap. Ia memandang Pardi penuh harap. Senapannya dibuang ke lantai tanah.
Melihatnya muncul tiba-tiba, Pardi terkaget. Ia segera melindungi Warni.
“ Warni, cepat pergi. Musuh datang !” himbau Pardi.
Warni langsung berteriak,
“ Dia bukan musuh. Dia temanku.”
Tanpa menghiraukan ucapan Warni, Pardi langsung menyerang Van Len. Ia melayangkan tendangan ke arah dada Van Len. Van Len tak siap menangkis. Ia terpental ke tanah. Ia jatuh tersungkur. Pardi kembali menyerang. Ia menarik kerah baju Van Len ke atas dengan keras. Tubuh Van Len dilempar ke tanah.
Warni berteriak keras. Ia berusaha menghentikan pertikaian. Ia berteriak,
“ Hentikan !..Ia bukan musuh kita. Ia memihak pada kita.”
Van Len menaikkan sedikit kepala. Tubuhnya terasa lemah untuk diangkat. Tapi ia paksakan diri untuk berkata,
“ Biarkan saja, Warni. Biar dia membalasku, karena bangsaku telah mencederai bangsa kalian.”
Pardi terheran.
“ Ia bisa berbicara dengan bahasa kita.”
Warni langsung menyahut,
“ Ia temanku, Kak Pardi. Namanya Van Len. Ia termasuk pemberontak kelompoknya, tapi secara diam-diam.”
“ Secara diam-diam.”
Van Len memaksakan diri untuk berdiri. Ia berjalan tertatih-tatih ke arah Pardi. Ia memancarkan senyum pada Pardi dan Warni. Ia berdiri di depan Pardi.
“ Aku tidak setuju dengan agresi militer yang di lancarkan negaraku ke negeri ini. Aku sangat mencintai alam negeri ini. Aku tak tega melihat alam negeri ini terus dibom dari berbagai arah. Sehingga rusak semuanya. Aku sangat sedih melihatnya. Aku ingin semua menjadi damai.”
“ Tuan Pardi. Maaf kalau salah menyebutkan nama. Nama itu yang ku dengar tentang anda sewaktu di dalam lemari. Aku sangat sedih melihat bangsa anda terjajah. Dari awal aku sudah menolak penyerangan atas negeri ini. Tapi aku tak punya kekuatan untuk menolak. Aku tidak punya partner untuk diajak bernegoisasi. Aku sangat malu pada diriku sendiri. Aku malu pada alam. Aku malu pada kebenaran. Aku malu pada kedamaian. Aku malu pada kasih sayang. Aku malu pada kepedulian. Karena aku telah mengkhianati semua itu.”
Pardi terdiam. Warni tampak berlinang air mata. Pipinya basah oleh air mata. Ia juga terdiam. Mereka berdua merasa iba pada seorang pemuda berbeda ras di depan. Pardi tahu mengapa pemuda itu tak menghindar dari serangannya tadi. Pemuda itu ingin membalas kesalahannya. Pardi merasa bersalah padanya. Hatinya luluh oleh perkataan pemuda itu.Bahasa Indonesianya cukup fasih. Pardi dapat memahaminya dengan baik.
Van Len melangkah lebih maju ke hadapan Pardi. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Pardi. Ia ingin menjabat tangan Pardi. Pardi pun mengulurkan tangannya. Jabat tangan pun terjadi, sangat erat.
“ Perkenalkan namaku Van Len. Nama lengkapku Otto van der len. Aku sering dipanggil Len oleh orang-orang.”
Pardi pun membalas,
“ Supardi. Panggil saja Pardi.”
Pardi memancarkan senyum. Warni terkejut sekaligus gembira. Hati Pardi yang keras pun dapat luluh oleh pribadi Van Len. Warni semakin mengagumi Van Len. Ia terpesona melihatnya.
“ Tuan Pardi...”
Belum sempat Van Len melanjutkan, Pardi memotong pembicaraan,
“ Jangan panggil aku tuan. Panggil saja aku Pardi.”
Van Len tersenyum mendengarnya. Lalu ia melanjutkan,
“ Pardi, aku ingin menjadi pasukan seperti dirimu, untuk berjuang melawan penjajah.”
Mendengar ucapannya, Warni dan Pardi terkaget bukan main. Mereka masih tak percaya dengan ucapan Van Len.
Warni memaksakan diri untuk bertanya,
“ Apa kau serius, Len ?”
Dengan tenang,V an Len menjawab,
“ Ya, aku serius.”


No comments:

Post a Comment