Saturday, February 21, 2015

Pesantren Mencegahku Dari Habit Merokok



Negara Indonesia mempunyai persentase tinggi jumlah perokok. Total 57% dari total penduduk negeri ini merokok. Artinya, lebih dari separo penduduk melakukan hal bernama merokok. Dan saya yakin 57% paling banyak diisi oleh kaum lelaki. Artinya jikalau hanya jumlah lelaki saja yang dihitung, maka jumlahnya akan jauh lebih tinggi dari 57%. Paham maksud saya ?

Apa hukum merokok tentunya semua punya persepsi. Tapi rokok sangat tidak menarik di mata saya. Banyak orang berkata,” Kamu berkata begitu karena baru pertama kali mencoba, cobalah sehari saja habiskan satu pack ( bungkung ), maka besok kamu tidak akan bisa hidup tanpa rokok.”

Menurut saya, ucapan mereka sungguh benar. Karena bukan hanya rokok, semua yang punya peluang rangsangan ketergantungan juga begitu. Misal, ada orang kecanduan game, karena bermain terus menerus sehingga mereka kecanduan. Bahkan ada pula kecanduan seks, satu pasangan tidak cukup. Maka jikalau imannya lemah, dia berselingkuh dengan banyak wanita demi hasrat seksnya. 

Lalu Adakah Obat dari kecanduan negative ?

Sudah saya bahas di artikel dulu, yaitu seketika. Orang hobi makan ikan lele. Tapi waktu dia melihat petani lele mencabik cabik tikus mati kemudian di masukkan ke dalam kolam dan dimakan ikan lele, seketika dia muak melihat ikan lele karena dia sangat jijik dengan tikus. Dalam bayangannya, dia akan memakan sesuatu dari tikus di daging lele, karena pasti sari pati tikus masuk ke dalam lele. Itu untuk mengubah hanya tidak negative. Tidak semua ikan lele makan bangkai tikus. Tapi kalau dikasih tikus, lele pasti mau. Begitu juga ayam, bebek, angsa, ketika dia tidak mendapati makanan, terkadang kita melihat mereka memakan kotoran. Saya yakin makanan utama lele bukan tikus. 

Begitu juga misalnya narkotika, perlihatkan kondisi dampak orang yang telah memakainya. Tubuhnya mengurus, hanya tulang belulang tiada berdaging. Bahkan belum ada obatnya dan terus menjerit. Maka ketika ketidaknikmatan muncul, mereka akan menghindar. Masih ingat, otak hanya mencari nikmat dan menghindari sengsara. Maka jelaskan sengsara yang dahsyat ketika orang melakukan keburukan, dan kenikmatan luar biasa ketika mereka menghindarinya.

Kembali ke topic. 

Ucapan orang,” Coba kalau kamu coba satu pack”. Sebenarnya ada hal yang menjadi penyebab utama hal itu, yaitu pergaulan atau lingkungan. Jika Anda sejak kecil bergaul dengan tongkrongan negative, mungkin bukan hanya rokok yang pernah Anda coba, bahkan narkotika, miras. Maka yang menjadi kata kunci saya jauh dari rokok adalah “ pergaulan”

Apakah saya pernah merokok ?

Ya, saya pernah merokok. Satu kali waktu SD. Dua kali waktu SMP. Dan setelah itu tidak pernah sama sekali sampai saat ini dan semoga terus berlanjut. Pertama kali, saya mencoba rokok bapak saya dan beliau tidak tahu. Saya merasakan pahit luar biasa dan tidak melanjutkan. Mungkin rokoknya murah jadi saya belum bisa menyimpulkan rokok itu tidak enak. Orang tua seperti bapak saya termasuk orang jaman dulu dan menyukai sesuatu jaman dulu termasuk rokok. Waktu SMP, dulu saya diajak teman ke sebuah sumur tua depan rumah. Kami merokok di situ secara sembunyi sembunyi. Karena bila tau, celaka. Bapak saya termasuk dipandang seorang ahli agama di mata orang. Maka jikalau saya ketahuan, celaka. 

Lelaki Kurang Laku Zaman Dulu

Apa kalau ketahuan, saya langsung menjadi gossip dan gunjingan banyak orang ?
Tidak. Saudara, saya dulu termasuk anak yang sama sekali tidak enak dipandang ( kurang laku di pasaran ). Jangan bayangkan fisik saya yang sekarang, dulu sangat beda. Bukti saya memajang foto saya waktu kecil di website peribadi. Itulah diri saya. Setiap jenjang, saya adalah murid paling jelek, sering dibully. Sudah kurus, item, rambut kribo, gak enak dipandang. Bagaimana mungkin orang doyan ngomongin saya sedang saya tidak menarik di mata mereka.

Saya melakukan secara sembunyi karena menjaga image bapak saya karena beliau dikenal punya kapabilitas ilmu agama di masyarakat. Untuk saya sendiri,” Halah, paling dianggap orang angin lewat, lagipula orang jelek siapa yang doyan.” Dan memang benar, tidak ada orang berharap,” Aku ingin menjadikan dia menantuku kelak.” Tidak ada seperti itu, sodara. Karena saya begitu jelek waktu itu. Dari saudara saudara saya, saya paling hitam, lebih mengenaskan lagi rambut saya keriting dan semuanya lurus. 

Perubahan Itu Seketika

Tahun 2010, itulah perubahan seketika. Sekali seketika ( melalui proses kilat ). Anda ingin tau rahasianya ? Baik saya akan jelaskan. Saya memiliki sakit yang cukup menganggu aktifitas. Saya sudah berobat ke mana pun. Dan waktu itu, saya kuliah di Jakarta. Karena makan sudah disediakan, maka uang jajan saya pergunakan. Dulu makan bayar 300 ribu perbulan, sedang orang tua menjatah saya 600 ribu perbulan. Jadi sisa 300 ribu tidak saya buat belanja, shopping, apalagi dugem. 

Saya buat untuk berobat. Saya beli semua herbal yang berhubungan dengan penyakit lambung. Semua sudah saya coba kayaknya sih. Dan apa yang terjadi, tiba tiba fisik saya berubah ! Dari sangat kurus menjadi standart. Wajah saya dari gemerlap malam menjadi rembulan hadir. Waww ! Sayangnya, penyakit masih menghantui. Hanya berubah fisik, belum full healty 100%.

Intinya, masa SD-SMP saya takut merokok karena menjaga image bapak saya yang juga tokoh masyarakat. Masa Aliyah, saya masuk Maahid Kudus. Dan tidak pernah tersentuh sekali pun rokok dari saya. Lulus, saya melanjutkan ke Solo juga di Asrama. Semuanya alim dan saya pun jauh dari rokok. Kemudian saya melanjutkan ke Jakarta, yang juga asrama. Saya pun terhindar dari rokok. Aplikasi mengajar seperti di Yogyakarta, saya juga tidak tersentuh rokok. Bagaimana mungkin saya melarang anak didik sedang saya melanggar pantangan itu. Imposible. 

Pesantren menjadikan salah satu factor penyebab saya tidak merokok.
Suatu ketika saya menghadiri seminar di sebuah hotel. Semuanya hadir bukan hanya dari beda kalangan, bahkan beda agama pun ikut di sana. Suatu hari saya ditanya,
“ Mas, ngajar dimana ?”
“ Di pesantren.”
“ Wah, pesantren itu tempatnya anak nakal nakal. Kok kamu mau sih di situ. Orang tua mereka biasa tidak punya waktu ngurus mereka jadi pergaulan mereka bebas. Karena pendidikan formal non pesantren berat menerima mereka. Jadi pesantren jadi alternative untuk meminimalisir kenakalan mereka. Kok kamu mau sih.”

Saya mengira orang itu dari kalangan nasionalis jadi berpandangan seperti itu. Dan saya katakana ucapannya tidak semuanya salah. Memang ada anak seperti itu, pasti ada. Dan ketika saya menjadi santri maupun pengajar pun ada anak seperti itu. Bukan hanya merokok, bahkan berpacaran. Tapi yang paling menyedihkan dari ucapannya, dia menggenaralisasi keburukan seluruh. Padahal faktanya beda.

Benar ada anak seperti itu, tapi setidaknya 1 : 99 anak bahkan 999 anak. Mengapa begitu ? Dia secara tidak langsung mengira pesantren tempat dugem, Bandar judi, orkesan, dan lain lain. Saya menerawang dari ucapannya,” pusat anak anak nakal.” Waw, seolah tempat ngerumpi anak nakal.

Padahal pesantren adalah lembaga Islam lebih baik dari lembaga Islam non pesantren apalagi lembaga yang mengajarkan agama beberapa jam setiap minggu. Karena sejak bangun tidur, mereka harus bangun sebelum subuh dan semuanya bernilai ibadah sampai dia tertidur. Semuanya ilmu dan membina akhlak menjadi umat kebanggaan. 



Nalis

No comments:

Post a Comment