Friday, February 27, 2015

Bahaya Menetralisir Keadaan



Blame, Excuse, Dan Justified

Beralasan membetulkan orang lain lebih hebat, menyalahkan, menghakimi menjadi sifat tidak ksatria pada pribadi siapa pun, baik untuk anak muda atau orang dewasa, tidak peduli lelaki atau perempuan.

Ketika sifat itu hinggap, dia merasa benar. Dia merasa berada dalam kebenaran. Tapi pada kenyataannya, hal sebaliknya terjadi. Dan itu sangat ironi karena tindakan ada dan lahir dari pola pikir orang. Jikalau pola pikir mereka kea rah tertentu, maka ya kearah. Apakah orang yang sangat jijik dengan belalang, lantas mau makan belalang ? Pola pikirnya adalah jijik dengan belalang. Dalam pikirannya, hinggap di kulit saja sudah membuat alergi selayaknya ulat baginya. Apalagi bayangannya jikalau dia memakannya. Baginya, kesengsaraan kuat dia mendekati belalang apalagi memakannya.
Orang memiliki sifat sifat di atas ketika ditanya,” Lho lihat dia sukses usia muda, lha kamu ?”

Dia menjawab,
“ Lha terang aja dia anaknya orang sukses kok. Dimodali bapaknya. Punya kenalan anak menteri. Hidup enak. Terang aja dia sukses muda dan tanpa hambatan ?”
Benar orang itu anak orang kaya sehingga mudah menjadi kaya. Tapi pertanyaan saya, adakah orang dari latar belakang anak orang miskin menjadi sangat sukses di usia muda ?

Jawabannya sangat banyak. 

Tapi karena dia pandai memiliki sifat di atas, dia bilang,” Lha terang aja dia anak orang miskin. Makanya daya juangnya kuat. Kan kalau tidak kerja tidak makan, makanya semangatnya kuat.”

Ketika ditanya,” Lha kamu ?”
Dia menjawab,” Saya kan anaknya orang menengah.”

Sekali lagi, dia mencari pembenaran dan pembenaran. Apa yang selalu dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Ya memang kebenaran. Tapi saya bisa bilang, kebenaran itu sama sekali tidak ada manfaat. Satu satunya manfaat baginya adalah mencegah dirinya untuk kaya.

Ketika dia mulai tersandung, dia menyalahkan orang lain, membenarkan diri. Lalu dia membenarkan tindakannya, lalu menghakimi. Bahkan jikalau dia tidak mendapati kambing hitam, maka dia mencari gajah hitam. Mungkin situasi ekonomi, gubernur, presiden.

Kesalahan Orang Lain Di Luar Kontrol Kita

Semisal kita menjadi seorang pemimpin, bisa jadi yang kita pimpin melakukan kesalahan karena diri kita, entah karena kita tidak tegas, pendiam, atau pun acuh, bahkan sering bolos.

Tapi kesalahan juga di luar control kita. Misal harga semua naik mendadak. Maka itu sudah tidak menjadi control kita. Karena kita bukan pengaturnya. Maka memang ada keluhan, tapi itu jelas tidak mengobati. 

Karena seorang beriman yang sejati selalu membuat sesuatu hal memilukan menjadi membahagiakan meskipun hal memilukan itu bukan area control kita.

Pola Pikir Melemahkan

Sebagian orang membenci kekayaan materi. Dengan berbagai alasan yang memang kebenaran. Tapi sekali lagi, kebenaran kebenaran itu hanya untuk mencegah dirinya untuk kaya.
“ Biar miskin asal bahagia.”
“ Biar miskin asal sehat.”
“ Biar miskin asal berilmu.”
“ Biar miskin tapi baik hati daripada kaya tapi jahat.”
“ Uang tidak dibawa sampai mati, tidak perlu susah payah toh nanti ditinggal.”
“ Sesungguhnya amal ibadah di nilai di akhirat, bukan harta.”

Lebih memilukan lagi, media media gencar menunjukkan bahwa orang kaya itu tamak, jahat, selalu menjadi antagonis. Hal itu memancar deras ke sanubari semua penonton. Benar ada seperti itu, tapi itu adalah orang kaya yang goblok.
Kalau kita membenarkan hal itu, sesungguhnya miskin lebih mengerikan lagi.

Saya Tanya 

“ Kenapa banyak orang saling bermusuhan bahkan memutus tali silaturrahmi akibat perebutan warisan ?”

Kenapa warisan diperebutkan ? Faktor apa yang mendasari hal itu ?

Sudah pasti karena berebut harta. Dan rasanya kemungkinan kecil terjadi jikalau ada sengketa warisan yang mana semua sanak keluarga dalam kondisi kaya raya. Bahkan tidak mengambil warisan, malah memberi pada ibu atau bapaknya yang masih hidup.
“ Sudah ambil sana bagi anggota keluarga kita yang membutuhkan.”

Dahsyat !

Saya Tanya kembali

“ Kenapa tidak sedikit karyawan saling bertikai bahkan saling menjatuhkan demi eksis di tempat kerja ?”

Sudah pasti karena mereka butuh duit dan jikalau dia tidak kerja di sana, maka dia tidak berpenghasilan mengingat sudah punya anak dan istri atau sudah dewasa meskipun masih lajang.

Nah, bagaimana jikalau dia kaya raya. Rasanya tidak mungkin sengketa hanya disebabkan untuk mempertahankan eksis berupa uang. Karena dia sudah punya banyak uang.

Saya Tanya,

“ Kenapa orang mencopet, maling, bahkan harus membunuh ? Ambil contoh lain mengapa orang mengemis ?”

Apa karena hobi ?

Ah, kemungkinan sangat kecil. Karena factor utama adalah kemiskinan. Orang miskin ketika imannya lemah, maka dia bisa melakukan hal criminal demi sesuap nasi.
Masihkah Anda bilang miskin tapi bahagia ?

Akui Diri Kita

Diri kita adalah hak untuk mengetahui dan mengakui segala kondisi. Biarkan orang lain menilai hal keliru. Tapi vital kita harus mengakui yang sebenarnya apa yang sedang kita dan dalam keadaan apa kita.

Anda gemuk ? Maka Anda harus mengakui Anda gemuk.

Secara tidak langsung, sinyal akan menunjuk kea rah ketidaknikmatan, lalu berbuah tindakan yang mana akan meminimalisir kegemukan. Karena kita sangat sengsara dengan ketidaknikmatan gemuk. Maka otak akan mencari nikmat dan menghindari unsur kesengsaraan tinggi.

Lalu apa yang dilakukan ?

Entah itu dengan berpuasa, olahraga, atau pun mengatur pola makan setiap hari.

No comments:

Post a Comment